What I'm thinking about .......

Kamis, 13 Desember 2012

Laporan konsep analisis kuantitatif dan pengukuran pH


KONSEP ANALISIS KUANTITATIF DAN PENGUKURAN pH

Risma Sri Ayu
123020149
Asisten : Nadya Charisma Putri

Tujuan Percobaan : Untuk mengetahui Normalitas, Molaritas, dan persen dalam larutan, mengetahui jenis larutan baku dan mengetahui cara membuat larutan baku, menentukan konsentrasi suatu zat dengan metode volumetrik yaitu asidimetri dan alkalimetri dan mengetahui jenis larutan indikator.

Prinsip Percobaan : Berdasarkan teori asam-basa Arrhenius yang menyatakan asam sebagai zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan sedangkan basa sebagai zat yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan. Berdasarkan teori asam-basa Browsted Lowry yang menyatakan bahwa asam sebagai pendonor proton (ion hidrogen) sedangkan basa sebagai akseptor proton (ion hidrogen).
Berdasarkan teori asam-basa Lewis yang menyatakan bahwa asam sebagai senyawa yang dapat menerima pasangan elektron bebas sedangkan basa sebagai senyawa yang dapat memberi pasangan elektron bebas.

MetodePercobaan :
 

Alkalimetri
1.                                                                   2.





 




3.





                                                    CH3COOH






Asidimetri


1.                                                                                                                            2.













     3.
Gambar 1. Metode Percobaan Analisis Kuantitatif
Gambar 2. Metode Percobaan Analisis Kualitatif
 
 



 

Hasil Pengamatan :
Berdasarkan hasil pengamatan dari Konsep Analisis Kuantitatif Asam Basa dan Pengukuran pH sebagai berikut :
Tabel 1. Analisis Kuantitatif Asam – Basa
No
Percobaan
Hasil
1
Alkalimetri
a.       VHCl = 11,4 ml
NHCl = 0,11 N
b.      VHCl = 33,55 ml
NNaOH = 0,15 N
c.       VNaOH = 15,5 ml
NCH3COOH = 0,1 N
% CH3COOH = 21,6 %
2
Asidimetri
a.       VNaOH = 21,75 ml
NNaOH = 0,1 N
b.      VHCl = 23,55 ml
NHCl = 0,0942 N
c.       VNaOH = 8,3 ml
NCH3COOH = 0,031 N
 % CH3COOH = 31,31 %
(Sumber : Risma Sri Ayu, Kel. F, Meja 3, 2012)

Tabel 2. Pengukuran pH
No
Percobaan
Hasil
1
Lakmus Merah
a.       Larutan A : Merah – Merah (Asam)
b.      Larutan B : Merah – Merah (Netral)
c.       Larutan C : Merah – Merah (Asam)
2
Indikator Universal
a.       Larutan A : 1
b.      Larutan B : 7
c.       Larutan C : 5
3
pH Meter
a.       Larutan A : 0,18
b.      Larutan B : 6,76
c.       Larutan C : 3,41
(Sumber : Risma Sri Ayu, Kelompok F, Meja 3, 2012)
Pembahasan :
Dari hasil pengamatan analisis kuantitatif asam basa, yaitu alkalimetri dan asidimetri. Percobaan alkalimetri pada percobaan pertama menggunakan HCl sebagai pentitrasi dan N2B4O7 sebagai titrat diperoleh VHCl 11,4 ml dan konsentrasi HCl 0,11 N. Pada percobaan kedua menggunakan HCl sebagai pentitrasi dan NaOH sebagai titrat diperoleh VHCl 33,55 ml dan konsentrasi NaOH  0,15 N. Pada percobaan ketiga menggunakan NaOH sebagai pentitrasi dan CH3COOH sebagai titrat diperoleh NNaOH 15,5 ml, konsentrasi CH3COOH  0,1 N, dan persen CH3COOH sebanyak 21,6 %.  Percobaan asidimetri pada percobaan pertama menggunakan NaOH sebagai pentitrasi dan H2C2O4 sebagai titrat diperoleh VNaOH 21,75 ml dan konsentrasi NaOH 0,1 N. Pada percobaan kedua menggunakan NaOH sebagai pentitrasi dan HCl sebagai titrat diperoleh VHCl 23,55 ml dan konsentrasi HCl  0,0942 N. Pada percobaan ketiga menggunakan NaOH sebagai pentitrasi dan CH3COOH sebagai titrat diperoleh NNaOH 8,3 ml, konsentrasi CH3COOH  0,0331 N, dan persen CH3COOH sebanyak 31,32 %. 
Dari hasil pengamatan pengukuran pH diperoleh hasil pada larutan A yaitu merupakan larutan asam karena kertas lakmus tetap berwarna merah lalu dengan menggunakan indikator universal diperoleh angka pH 1 dan yang terakhir dengan pH meter di dapat hasil yang lebih akurat yaitu 0,78. Larutan B merupakan larutan netral karena kertas lakmus tetap berwarna merah, angka pH yang diperoleh dengan menggunakan indikator universal adalah 7 sedangkan menggunakan pH meter yaitu 7. Larutan C merupakan larutan asam karena kertas lakmus merah tidak berubah warna, angka pH menggunakan indikator universal menunjukan pH 5 sedangkan menggunakan pH meter diperoleh angka pH 3,41.
Titrasi adalah cara analisis ang memungkinkan kita untuk mengukur jumlah yang pasti dari suatu larutan dengan mereaksikan larutan dengan suatu larutan lain yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan yang ada dalam labu buret disebut pentiter, Pentiter adalah larutan dalam buret yang diteteskan secara perlahan melalui kran ke dalam labu erlenmeyer yang mengandung larutan pereaksi lain. Larutan yang ada dalam erlenmeyer disebut titran, titran adalah reagensia (suatu larutan standar) yang ditambahkan dari dalam sebuah buret untuk bereaksi dengan analitnya. Larutan standar adalah suatu larutan yang konsentrasinya telah ditetapkan dengan akurat. (Syukuri, 1999).
Asidimetri adalah analisis volumetrik yang menggunakan larutan baku basa untuk menentukan konsentrasi asam yang ada. Alkalimetri adalah analisis volumetrik yang menggunakan larutan baku asam untuk menentukan konsentrasi basa yang ada. Perbedaan antara asidimetri dan alkalimetri adalah asidimetri mencari konsentrasi asam sedangkan alkalimetri mencari konsentrasi basa, selain itu larutan standar yang digunakan berbeda alkalimetri menggunakan larutan baku asam sedangkan asidimetri menggunakan larutan baku basa. (Daintith, 1997).
Titik ekuivalen adalah titik dimana jumlah mol asam tepat bereaksi sempurna dengan jumlah mol basa atau telah ternetralkan oleh basa. . Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan sempurna yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan warna indicator. Perbedaan antara titik ekivalen dan titik akhir titrasi adalah titik akhir titarsi dapat diketahui kapan terjadina karena kita dapat melihat perubah warna ang terjadi sedangkan saat terjadi titik ekivalen kita tidak akan mengetahuinya karena tidak terlihat perubahan seperti saat terjadi titik akhir titrasi. (Raymond Chang, 2003)
Teori asam-basa Arrhenius menyatakan asam sebagai zat yang menghasilkan ion hidrogen dalam larutan sedangkan basa sebagai zat yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan. Teori asam-basa Browsted Lowry menyatakan bahwa asam sebagai pendonor proton (ion hidrogen) sedangkan basa sebagai akseptor proton (ion hidrogen). Teori asam-basa Lewis menyatakan bahwa asam sebagai senyawa yang dapat menerima pasangan elektron bebas sedangkan basa sebagai senyawa yang dapat memberi pasangan elektron bebas. (Raymond Chang, 2003)
Larutan baku adalah larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat dan teliti. Senyawa yang digunakan untuk membuat larutan baku dinamakan senyawa baku.  Senyawa baku dibedakan menjadi dua, yaitu : Larutan baku primer adalah bahan dengan kemurnian tinggi yang digunakan untuk membakukan larutan standar dan untuk membuat larutan baku dimana kadarnya atau konsentrasinya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan senyawanya dan volume larutan yang dibuat. (Phiin’s, 2012)
 Adapun syarat-syarat larutan standar primer ialah :
1.      Mempunyai kemurnian yang tinggi ( 100 % )
2.      Mempunyai rumus molekul yang pasti
3.      Tidak mengalami perubahan selama penimbangan
4.      Mempunyai berat ekivalen tinggi sehingga kesalahan penimbangan dapat diabaikan
5.      Zat tersebut harus stabil baik pada suhu kamar ataupun pada waktu dilakukan pemanasan, standar primer biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditimbang
6.      Mudah diperoleh
Biasanya zat standar primer memiliki massa molar ( Mr ) yang besar, hal ini untuk memperkecil kesalahan pada waktu proses penimbangan. Menimbang zat dalam jumlah besar memiliki kesalahan relatif yang lebih kecil dibanding dengan menimbang zat dalam jumlah yang kecil. (Phiin’s, 2012)
Beberapa contoh dari larutan standar primer antara lain Contohnya : H2C2O4 . 2H2O, Asam Benzoat (C6H5COOH), Na2CO3, K2Cr2O7, As2O3, KBrO3, KIO3, NaCl. (Phiin’s, 2012)
Larutan baku sekunder adalah bahan yang telah dibakukan sebelumnya oleh baku primer kareana sifatnya yang tidak stabil,  larutan yang konsentrasinya ditentukan dengan cara pembakuan . (Phiin’s, 2012)
Adapun syarat – syarat larutan standar sekunder :
1.      Derajat kemurniannya lebih rendah dari larutan primer
2.      Berat ekivalennya tinggi
3.      Larutan relatif stabil didalam penyimpanan
Beberapa contoh dari larutan standar sekunder antara lain NaOH, CH3COOH, HCl. (Phiin’s, 2012)
Pada percobaan ada beberapa faktor-faktor kesalahan yang menyebabkan tidak akuratnya hasil titrasi yang didapat antara lain ialah kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi, Kurang tepatnya pada saat pembuatan larutan N2B4O7 dan H2C2O4 seperti pada saat penimbangan, terjadi perubahan skala buret yang tidak konstan, kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator, terlalu banyak meneteskan indikator PP atau MM.
Aplikasi dalam bidang pangan adalah aplikasi analisis kuantitatif dan pengukuran pH dalam bidang pangan adalah dapat menentukan persen boraks yang ada dalam bakso atau dalam bahan pangan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, menentukan persen cuka yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga,  membuat garam dapur (NaCl) dari pencampuran antara NaOH dan HCl, mengetahui zat-zat yang dapat dijadikan bahan aditif makanan, membuat soda kue (Natrium Bikarbonat) untuk pengembang kue, pembuatan yogurt dan pembuatan nata de coco.

Kesimpulan :
Dari percobaan alkalimetri dan asidimetri dapat diketahui konsentrasi dari larutan NaOH, HCl dan CH3COOH yang digunakan serta mengetahui persen cuka yang digunakan dalam percobaan. Berdasarkan hasil pengamatan pengukuran pH dapat disimpulkan bahwa sampel larutan A adalah asam, larutan B adalah netral dan larutan C adalah asam dengan menggunakan kertas lakmus merah dan dapat mengetahui pH dari sampel larutan A,B, dan C dan mengetahui angka pH dengan menggunakan indikator universal serta menggunakan pH meter yang tingkat ketelitiannya lebih tinggi dari indikator universal maupun kertas lakmus.








DAFTAR PUSTAKA


Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti, Jilid 1, Erlangga, Jakarta
Daintith, J.1997, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta.
Phin’s. 2012. Phiin’s.blogspot.com. Percobaan Asidimetri dan Alkalimetri. Acessed : 01 Desember 2012
S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 1. ITB, Bandung.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar